<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ketika hati bicara</title>
	<atom:link href="http://hatibicara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hatibicara.wordpress.com</link>
	<description>Ketika Hati Bicara</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Oct 2011 14:46:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hatibicara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ketika hati bicara</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hatibicara.wordpress.com/osd.xml" title="Ketika hati bicara" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hatibicara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah Karpet</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/10/14/kisah-karpet/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/10/14/kisah-karpet/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 16:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/10/14/kisah-karpet/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kisah nyata&#8230; Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan &#38; kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih &#38; teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=32&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kisah nyata&#8230;</p>
<p>Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan &amp; kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih &amp; teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.</p>
<p>Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.</p>
<p>Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &amp; berkata kepada sang ibu:</p>
<p>&#8220;Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan&#8221; Ibu itu kemudian menutup matanya.</p>
<p><span id="more-32"></span><br />
&#8220;Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?&#8221; Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.</p>
<p>Virginia Satir melanjutkan; &#8220;Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. </p>
<p>Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi&#8221;.</p>
<p>Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.</p>
<p>&#8220;Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &amp; kotoran di sana , artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu&#8221;.</p>
<p>Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.</p>
<p>&#8220;Sekarang bukalah mata ibu&#8221; Ibu itu membuka matanya<br />
&#8220;Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?&#8221;</p>
<p>Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.</p>
<p>&#8220;Aku tahu maksud anda&#8221; ujar sang ibu, &#8220;Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif&#8221;.</p>
<p>Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.</p>
<p><i>Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder &amp; John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita &#8216;membingkai ulang&#8217; sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.</i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=32&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/10/14/kisah-karpet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1 tamparan untuk 3 pertanyaan</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/27/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/27/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 07:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/27/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai. Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=31&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.</p>
<p>Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?<br />
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.</p>
<p>Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.<br />
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.</p>
<p>Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:</p>
<ol>
<li>Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya</li>
<li>Apakah yang dinamakan takdir</li>
<li>Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?</li>
</ol>
<p>Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.</p>
<p>Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?<br />
Pemuda: Sakit.</p>
<p>Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.</p>
<p><span id="more-31"></span><br />
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?<br />
Kiyai : Saya tidak marah&#8230;Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.</p>
<p>Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.<br />
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?</p>
<p>Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.<br />
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?</p>
<p>Pemuda : Ya!<br />
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!</p>
<p>Pemuda : Saya tidak bisa.<br />
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama&#8230;kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.</p>
<p>Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?<br />
Pemuda : Tidak.</p>
<p>Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?<br />
Pemuda : Tidak.</p>
<p>Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.</p>
<p>Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?<br />
Pemuda : Kulit.</p>
<p>Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?<br />
Pemuda : Kulit.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=31&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/27/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>When Is The Right Time ?</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/26/when-is-the-right-time/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/26/when-is-the-right-time/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2007 06:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/26/when-is-the-right-time/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Maybe yes, maybe no.&#8221; Istilah ini belakangan menjadi popular karena salah satu iklan rokok. Kalau iklan ini muncul sekitar 4 tahun yang lalu, barangkali ini akan menjadi &#8220;senjata&#8221; rekan kerja saya untuk memperolok-olok saya. Karena memang ada persamaannya. Sampai saya meninggalkan kantor di usia 39 memang saya masih sendirian alias jomblo. &#8220;Kapan kawin? Kapan? Kapan?&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=30&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Maybe yes, maybe no.&#8221; Istilah ini belakangan menjadi popular karena salah satu iklan rokok. Kalau iklan ini muncul sekitar 4 tahun yang lalu, barangkali ini akan menjadi &#8220;senjata&#8221; rekan kerja saya untuk memperolok-olok saya. Karena memang ada persamaannya. Sampai saya meninggalkan kantor di usia 39 memang saya masih sendirian alias jomblo. &#8220;Kapan kawin? Kapan? Kapan?&#8221; sering mereka antara serius dan bercanda menanyakan hal yang satu itu.</p>
<p>&#8220;Nunggu apa sih, mas? Rumah ada. Mobil ada. Karir bagus,&#8221; kata salah satu rekan kerja saya.</p>
<p>&#8220;Mas Agus, sih terlalu &lsquo;choosy&rsquo;,&#8221;celetuk yang lain. </p>
<p>Harus saya akui, mungkin karena salah satu kecenderungan kepribadian saya adalah &lsquo;perfeksionis&rsquo;, sering saya membutuhkan waktu extra sebelum memutuskan sesuatu. Saya terkadang merasa waktunya belum tepat. Bukan sekali hal tersebut terjadi. Sayangnya, hal ini dalam banyak kesempatan justru sangat merugikan. Misalnya ketika harga saham jatuh, dan tiba saatnya untuk membeli. Muncul pemikiran, ntar deh. Tunggu dulu. Tunggu sampai titik terendah. Tunggu sampai waktunya tepat? Siapa tahu ntar turun lagi. Hingga ketika pasar kembali &#8220;bullish&#8221;, dan harga saham melonjak; tinggallah saya yang gigit jari.</p>
<p><span id="more-30"></span><br />
Dalam kesempatan lain, saya melihat barang yang ditawarkan dengan harga special di sebuah toko. Ketika tangan sudah hampir mengambil dompet, tiba-tiba terbersit pemikiran untuk menunda. &#8220;Ntar deh. Saatnya belum pas. Besok juga bisa,&#8221; kata saya dalam hati. Dan ketika esoknya saya kembali ke toko yang sama, ternyata barang tersebut telah terjual.</p>
<p>Ketika saya mendapat tawaran dari seorang rekan yang bekerja di sebuah penerbit buku besar, untuk menulis buku motivasi; yang muncul di kepala adalah &#8220;ntar kalau ngga bagus, apa kata orang. Tunggu deh biar waktunya pas&#8221;. Dan berbagai argumentasi untuk menunda. Hingga akibatnya, 3 (tiga) tahun berlalu tanpa sebuah bab pun tertulis.</p>
<p>Menunda. Mencari waktu yang tepat adalah kebiasaan buruk. Sebab terkadang untuk perkara sepele pun saya jadi menunda, menunggu waktu yang tepat. Dan ini ternyata bukan pilihan yang bijak. Sebab tidak pernah ada waktu yang pas. Yang jelas justru waktu terus berjalan dan tak pernah kembali. Lalu kalau tidak ada waktu yang pas, kapan kita harus mulai? Jawabnya adalah SEKARANG. Mulailah sekarang. Bertindaklah sekarang.</p>
<p>Saya belum mulai menulis buku. Tapi paling tidak sekarang ini saya mulai menulis artikel kecil ini. Belum bagus? Maybe yes, maybe noJ Yang jelas saya sudah mulai. Bagaiamana pendapat Anda?</p>
<p>Selalu Semangat, Selalu HEBAT!</p>
<p>Agus Sutikno</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=30&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/26/when-is-the-right-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>How to Spell SUCCESS</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/how-to-spell-success/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/how-to-spell-success/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 09:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/how-to-spell-success/</guid>
		<description><![CDATA[S see your goals U understand your obstacles C clear your mind of doubt C create possitive mental picture E embrace your challenge S stay on track S show the world that you can do it !<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=29&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>S</b> see your goals<br />
<b>U</b> understand your obstacles<br />
<b>C</b> clear your mind of doubt<br />
<b>C</b> create possitive mental picture<br />
<b>E</b> embrace your challenge<br />
<b>S</b> stay on track<br />
<b>S</b> show the world that you can do it !</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=29&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/how-to-spell-success/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harta Karun Untuk Semua</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/harta-karun-untuk-semua/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/harta-karun-untuk-semua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 07:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/harta-karun-untuk-semua/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dewi Lestari Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: &#8220;Stuff &#8211; The Secret Lives of Everyday Things&#8221;. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=28&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Dewi Lestari</p>
<p>Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: &#8220;Stuff &#8211; The Secret Lives of Everyday Things&#8221;. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir. </p>
<p>Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakanwaktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil. </p>
<p>Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta. </p>
<p>Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri? </p>
<p><span id="more-28"></span><br />
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri. </p>
<p>Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil. </p>
<p>Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? </p>
<p>Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? </p>
<p>Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia. </p>
<p>Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati. </p>
<p>Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi. </p>
<p>Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion?<br />
Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh. </p>
<p>Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti &#8216;harta karun&#8217;, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran. </p>
<p>Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah. </p>
<p>Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan . Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya&#8230; dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu? </p>
<p>Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu. </p>
<p>Banyak orang yang berkomentar pada saya, &#8220;Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.&#8221; Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. </p>
<p>Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah. </p>
<p>Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. </p>
<p>Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=28&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/25/harta-karun-untuk-semua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/19/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/19/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 05:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/19/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=27&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.</p>
<p>Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.</p>
<p>Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia &#8220;sukses&#8221; di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini.</p>
<p>Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut &#8220;sukses&#8221;? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset &#8220;orang sukses&#8221; bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.</p>
<p>Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca www.billporter.com, film Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori &#8220;sukses secara finansial.&#8221;</p>
<p><span id="more-27"></span>Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang paling sukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalah bertemu muka dengan beliau suatu hari.</p>
<p>Nah, lantas apa resep 10 tip sukses ala Jennie?</p>
<p>Satu, bersyukurlah atas hari ini. &#8220;Just to be alive is a grand thing,&#8221; kata Agatha Christie, salah satu novelis detektif terkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiap hari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan<br />
Bill Porter. Kalau dia bisa jadi seorang salesman yang berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisa tercapai.</p>
<p>Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya, hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian, &#8220;Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever.&#8221; Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yang memerlukan effort maupun effortlessly.</p>
<p>Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini saya dapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabat saya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, &#8220;There are all kinds of writers, there are all kinds of readers.&#8221; Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokal di sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya (niche). Find your niche, so you find your place in the world.</p>
<p>Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emerson once said, &#8220;Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail.&#8221; Jangan latah mengikuti orang lain, dengar (dan ikuti) kata hati. Ambilah jalan yang belum pernah dilewati (dilakukan) orang lain dan tinggalkanlah jejak (yang baik).</p>
<p>Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukan berangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impian hanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saat ini juga.</p>
<p>Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belum kelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali, apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan, ia akan menjadi semacam de ja vu.</p>
<p>Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalam menyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi dengan hati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, be courageous to start the day.</p>
<p>Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing, ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-iming tertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalam arti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan dan berkat yang kita terima.</p>
<p>Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do? Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara, namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendiri menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.</p>
<p>Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya. Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah untuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangan tunggu-tunggu lagi. &#8220;Just do it,&#8221; kata Cher di Farewell Concertnya beberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlah terbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir.</p>
<p>Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan. Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka saya ada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).</p>
<p>Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by Jennie S. Bev. *</p>
<p>* Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books<br />
and over 850 articles published in the United States,<br />
Canada, UK, France, Germany, Singapore and Indonesia. She is<br />
based in scenic Northern California where she resides with<br />
her husband.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=27&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/19/sepuluh-tip-sukses-right-here-right-now/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Tanpa Kekerasan</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/05/kekuatan-tanpa-kekerasan/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/05/kekuatan-tanpa-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 08:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/05/kekuatan-tanpa-kekerasan/</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi). Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=26&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi).</p>
<p>Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.</p>
<p>Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.</p>
<p><span id="more-26"></span>Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, &#8220;Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.&#8221;. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.</p>
<p>Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.</p>
<p>Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun &#8220;Kenapa kau terlambat?&#8221;.</p>
<p>Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab &#8220;Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu&#8221;. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.</p>
<p>Lalu Ayahnya berkata, &#8220;Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.&#8221;.</p>
<p>Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.</p>
<p>Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.</p>
<p>Pernyataan Arun:</p>
<p>&#8220;Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.&#8221;</p>
<p>Sumber: Tidak diketahui</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=26&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/09/05/kekuatan-tanpa-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dicari Yang Pengalaman</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/27/dicari-yang-pengalaman/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/27/dicari-yang-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 03:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/27/dicari-yang-pengalaman/</guid>
		<description><![CDATA[Dicari yang Berpengalaman Renungan acara morning briefing kali ini berasal dari sebuah ide yang datangnya dari sebuah iklan tentang lowongan pekerjaan di beberapa surat kabar yang sepertinya sudah sering kita baca bersama dimana ada tertulis salah satu bunyi syaratnya adalah Dicari yang Berpengalaman. hati kita tergerak untuk menguraikan bagian tulisn tersebut sesuai dengan thema utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=25&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dicari yang Berpengalaman</p>
<p>Renungan acara morning briefing kali ini berasal dari sebuah ide yang datangnya dari sebuah iklan tentang lowongan pekerjaan di beberapa surat kabar yang sepertinya sudah sering kita baca bersama dimana ada tertulis salah satu bunyi syaratnya adalah Dicari yang Berpengalaman. hati kita tergerak untuk menguraikan bagian tulisn tersebut sesuai dengan thema utama yang akan kita sharingkan dalam acara pagi ini yaitu; Dicari Yang Berpengalaman.</p>
<p>Supaya kita menjadi orang pengalaman. Karena kalau kita renungkan kata berpengalaman itu sesuatu yang amat sangat penting. Kenapa penting! Sebab bila karyawan di dalam perusahan semuanya memiliki pengalaman yang hebat maka perusahaan juga bisa hebat dan kuat.</p>
<p><span id="more-25"></span>Tetapi sebaliknya bila semua karyawan pengalamannya hancur-hancuran maka perusahaan juga bisa menjadi berantakan, oleh karena itu pengalaman adalah penting dan sungguh sangat penting Semua orang rindu disebut sebagai orang yang berpengalaman. Semua perusahaan rindu memiliki karyawan yang berpengalaman sebab itu penting Nah.. selain persyaratan berupa latar belakang dan pendidikan, ternyata pengalaman dalam disiplin ilmu kreatifitas bisa digambarkan atau diibaratkan bagai seluas bidang tanah yang subur yang siap ditanami dengan bibit yang unggul.</p>
<p>Sehingga muncul tunas muda dan secara cepat tunas itu, berubah menjadi batang yang bercabang-cabang kemudian tumbuh daun-daunan dan kemudian berbunga yang pada akhirnya bisa berbuah lebat dan buahnya tetap. Sehingga sampai biji buah tsb siap ditanam kembali dan bisa berbuah lagi dengan hasil yang berlipat ganda. Maka sekali lagi bisa dikatakan bahwa;pengalaman itu adalah sesuatu hal yang sangat penting. Hal ini perlu disampaikan dalam acara morning briefing kali ini.</p>
<p>Ada sebuah ILUSTRASI;zaman dulu kala hidup seorang nabi yang memiliki sebuah mantera untuk menghidupkan tulang-tulang orang mati. Murid-muridnya berkali-kali meminta agar sang nabi itu, memberikan rahasia mantera tsb kepada mereka.</p>
<p>Tetapi nabi itu selalu menjawab Sabarlah,..kamu kan,..perlu pengalaman lebih dulu. Kamu perlu belajar bijak dari pengalaman. Tunggulah sampai kamu benar-benar menjadi matang. Toh pada akhirnya rahasia mantera itu pasti akan saya berikan kepada kalian.” Namun demikian para murid itu, tetap saja mendesaknya dan mereka secara terus menerus mendesak nabi itu, dengan tidak sabar.</p>
<p>Pada akhirnya dengan berat hati dan terpaksa.! Nabi itu memberikan rahasia mantera yang mereka minta itu. Maka di saat itu juga hati para murid menjadi terasa senang dan wajahnya tampak bergembira. Dan seketika itu juga, mereka meninggalkan sang nabi.</p>
<p>Karena mereka ingin mempraktekan dan mencoba keampuhan mantera yang baru saja diterimanya itu. Di perjalanan mereka melihat ada beberapa batang tulang yang berserakan. Tanpa pikir panjang mereka berkata. ”Mari kita coba sekarang.!” Lalu mereka menggunakan mantera itu. Dan apa yang bakal terjadi.?</p>
<p>Tulang-tulang itu mulai bergerak. Mantera itu benar-benar ampuh.! Dengan mata terbelalak mereka melihat bahwa; tulang-tulang itu mulai menjadi kerangka yang ditumbuhi daging. Ternyata kerangka itu berubah menjadi seekor serigala. Serigala yang hidup dengan mata yang liar dan perangai yang beringas serta menakutkan.!</p>
<p>Murid murid itu lari ketakutan. Tetapi mereka dikejar serigala itu. Mereka diterkam. Dan pada akhirnya mereka tewas dengan tubuh yang terkoyak-koyak. Nah dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa; kepandaian dan kekuasaan seseorang belum tentu merupakan segala-galanya.</p>
<p>Orang-orang yang pandai dan berkuasa belum tentu bisa bersikap bijak dalam menggunakan kepandaian dan kekuasaannya. Sebab mereka belum berpengalaman. Tetapi apakah arti sesungguhnya sebuah pengalaman.?</p>
<p>Disini perlunya dikisahkan bahwa; ada dua orang manajer di-suatu perusahaan yang sama. Sebut saja manajer A dan manajer B dalam kisah ini dikatakan bahwa; manajer A sudah sepuluh tahun bekerja, sedangkan manajer B baru lima tahun bekerja. Siapa yang lebih berpengalman. ?? Apakah manajer A.?? Belum tentu.!</p>
<p>Kedua manajer itu setiap tahun tugasnya adalah memimpin dan mengelola perusahaan dimana mereka bekerja secara tekun dan rajin. Manajer A dan manajer B. Telah berkali-kali dapat menyelesaikan semua permasalahan secara serius dan konsentrasi ketika perusahaan atau beberapa anak buahnya sedang menghadapi kesulitan besar dilapangan. Tetapi manajer A pada saat memberikan beberapa alternatif untuk mencari solusi selalu tetap menggunakan pola lama dan cara yang sama, begitu juga cakupan, urutan dan sistemnya selalu itu-itu saja. Jadi sama sekali tidak ada perubahan. Sehingga hasilnya medioker (pas-pasan) kurang efisien dan efektif serta tidak produktif.</p>
<p>Namun tidak demikian halnya yang telah dilakukan oleh manajer B. Dimana cara kerja dia sangatlah berbeda. Karena pada saat dia memberikan alternatif untuk mencari solusi pada masalah pekerjaan yang sedang dialami oleh anak buahnya. Ternyata dia sudah menggunakan lima macam pendekatan dengan sistem yang berbeda. Dia selalu membandingkan dan menilai kelima macam pendekatan pada sistem yang berbeda tersebut, sebelum memecahkan setiap masalah yang terjadi di dalam lingkup pekerjaannya. Dan semua perubahan selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Dia orangnya tidak segan-segan mau keluar dari norma, sikap maupun perilakunya selalu dinamis.</p>
<p>Dia memiliki kemauan yang keras untuk terus menerus belajar dan selalu berusaha untuk melakukan adaptasi terhadap semua lingkungan dimana dia sedang berada. Maka hasil akhirnya benar-benar excelence sehingga nilainya jauh lebih efektif dan efisien serta produktif jika dibandingkan dengan hasil karya manajer A tsb. Nah.! siapakah kira-kira yang lebih berpengalaman. ? Jelas dalam hal ini yang lebih berpengalaman adalah manajer B walaupun masa kerjanya lebih singkat.</p>
<p>Jadi Pengalaman belum tentu identik dengan lama atau panjangnya masa kerja seseorang. Untuk itu perlu diingat bahwa pengalaman lebih dari sekedar mengalami sesuatu. Maka jangan salah sangka bahwa; apa yang kita lihat, kita dengar atau kita kerjakan, belum tentu menjadi pengalaman. Jadi apa yang kita kerjakan baru menjadi pengalaman kalau kita kelak’ bisa memanfaatkan kesalahan ataupun keberhasilan kita untuk pekerjaan kita selanjutnya.</p>
<p>Sebab kualitas sebuah pengalaman dapat diukur secara intensitas ketika maksud dan tujuan dapat diuraikan secara jelas dimuka dan dimengerti. Serta kemampuan kita untuk menarik pelajaran secara intens yaitu; lebih dalam, lebih hebat, lebih padat dan berarah dari pengalaman itu sendiri.</p>
<p>Ada pakar pendidikan yang bernama Jhon Dewey ketika dia wafat usianya sudah mencapai 93 Tahun (1859-1952) Dia selama hidupnya telah berhasil menulis buku dengan judul EXPERIENCE and EDUCATION salah satu isi di dalam karya tulisannya mengatakan bahwa; Cara belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman. Bukan pengalaman dalam arti lebih dari sekedar mengalami sesuatu. Melainkan kita harus bertanya dalam hati nurani, apa yang dapat aku pelajari dari apa yang pernah aku alami apa kelemahanku, apa kekuatanku, apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dirubah, apa yang sudah diperoleh bagi orang banyak dari semuanya ini.??</p>
<p>Pengalaman baru bisa disebut pengalaman kalau apa yang dialami itu diuji secara kritis. Untuk itu, dibutuhkan sikap jujur terhadap diri sendiri dan mau mengakui kebodohan diri kita sendiri, serta yang terpenting kita mau mendengar saran yang diberikan oleh orang lain. Sebab orang yang cepat berpuas diri biasanya miskin pengalaman, walaupun apa yang dialami banyak.</p>
<p>Untuk itu agar kita bisa disebut sebagai orang yang berpengalaman. Maka pertama kali yang harus kita lakukan dalam pekerjan kita sehari-hari adalah; pentingnya belajar untuk bisa menjunjung tinggi standard mutu pekerjaan dan etika profesi.</p>
<p>Sehingga dengan demikian secara otomatis kehidupan kita pasti berubah menjadi bermutu atau berkualitas. Sebab kehidupan yang bermutu dan berkualitas bisa menghasilkan pengalaman. Pengalaman bisa menghasilkan sikap yang bijak.</p>
<p>Pengalaman bisa menjadikan orang lebih bersikap hati-hati dan bisa mempertimbangkan segala sesuatu secara tenang dan matang. Dia melihat persoalan bukan hanya dari satu perspektif saja atau dari kepentingan diri sendiri, melainkan dari berbagai perspektif atau dari kepentingan orang banyak. Dan untuk bisa jalan terus dia tidak begitu saja berjalan ngawur melangkah maju kedepan lalu akhirnya malah kena celaka. Jika perlu dia juga bersedia berhenti sejenak dan menepi atau malah bersembunyi ketika melihat malapetaka akan datang.</p>
<p>Intinya selain memiliki self starter yang pasti diapun juga memiliki daya nalar yang tinggi. Sekali lagi dikatakan bahwa; pandai dan berkuasa belum tentu panya arti bijak dan berpengalaman. Murid-murid Nabi tadi sudah pandai dan berkuasa karena mereka mempunyai mantera yang mampu menghidupkan kembali tulang. Akan tetapi karena sikap mereka terburu nafsu ketika menggunakan kepandaian dan kekuasaannya.</p>
<p>Maka tulang-tulang yang mereka hidupkan ternyata adalah tulang serigala. Mereka coba menghidupkan sesuatu yang kemudian malah mematikan mereka sendiri. Mereka sudah mempunyai kepandaian dan kekuasaan. Tetapi mereka belum mempunyai sifat bijak dan pengalaman.</p>
<p>Untuk itu esensi yang perlu disampaikan dalam renungan pagi hari ini adalah: Justru sebab dari akibat atas kepandaian kita selama ini. Maka hingga sampai dengan sekarang ini kita telah diberikan suatu kepercayaan oleh perusahaan dimana kita berkarya. untuk memegang posisi dan kekuasan tertentu. Maka yang perlu diingat adalah; janganlah sampai kita terburu nafsu atau menjadi sombong dan takebur seperti yang baru saja dilakukan oleh para murid nabi tadi.</p>
<p>Yang pada akhirnya bisa merugikan diri kita sendiri. Untuk itu hendaknya kita bisa menjadi orang yang bijak. Karena orang pandai kalah dengan orang yang cerdik sedangkan orang cerdik kalah dengan orang yang bijak.</p>
<p>Oleh karena itu agar kita nantinya bisa menjadi orang yang bijak. Maka perlunya belajar dari pengalaman. Sehingga pada saat kita sedang menjalani kehidupan beragama, berkarya dan bermasyarakat. Benar-benar telah memiliki sifat yang bijak dan pengalaman.</p>
<p>Namun demikian perlu kita sadari bahwa; dalam diri setiap orang itu yang pasti mempunyai keterbatasan, tetapi demi kemajuan kita tidak boleh dibatasi oleh keterbatasan itu sendiri. Maka mulai sekarang bangunlah kemampuan kita diatas kemampuan.</p>
<p>Seperti sikap manajer B yang telah dicontohkan tadi. Untuk itu jangan cepat berpuas diri jadilah orang pandai dengan cara bergaul dan belajar dengan orang-orang berilmu atau ahli. Untuk itu jangan malu-malu belajar sambil bertanya kepada orang-orang yang pandai. Seperti kata pepatah lama bahwa; Orang kaya tempat meminta dan orang pandai tempat bertanya.</p>
<p>Maka sudah dapat dipastikan bahwa; kehidupan kita kelak di-kemudian hari dapat diharapkan akan tampak jauh lebih sukses karena telah memiliki sifat bijak dan pengalaman. Namun dari semua kemampuan yang kita pelajari. Yang terpenting adalah semangat dan kemauan untuk belajar agar bisa berubah dan berbuah serta berlipaat ganda.</p>
<p>Demikianlah renungan singkat ini disampaikan semoga bermanfaat untuk merubah diri kita menjadi orang yang bijak dan berpengalaman.</p>
<p>Atas perhatian dan kerja samanya terima kasih. Sangat diharapkan semoga Tuhan YME bisa memberkati kita semua. Amin</p>
<p>Email dari: Arief Wahyu</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=25&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/27/dicari-yang-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maaf</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/24/maaf/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/24/maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 02:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/24/maaf/</guid>
		<description><![CDATA[Sehari-hari kita sering mendengarkan kata “Maaf”. Biasanya kata maaf diikuti dengan pernyataan tentang kondisi atau keadaan yang di luar harapan. Misalnya “Maaf, kenyamanan Anda terganggu. Maaf, kami sudah tutup. Maaf, saya terlambat. Maaf, barang yang Anda pesan sudah habis. Maaf, kami tidak bisa membantu”. Dan masih banyak maaf-maaf yang lain. Terkesan begitu mudah kita mengatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=24&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehari-hari kita sering mendengarkan kata “Maaf”. Biasanya kata maaf diikuti dengan pernyataan tentang kondisi atau keadaan yang di luar harapan. Misalnya “Maaf, kenyamanan Anda terganggu. Maaf, kami sudah tutup. Maaf, saya terlambat. Maaf, barang yang Anda pesan sudah habis. Maaf, kami tidak bisa membantu”. Dan masih banyak maaf-maaf yang lain. Terkesan begitu mudah kita mengatakan kata maaf. Ketika kita mengharapkan orang lain menerima kekurangan yang kita miliki, otomatis kata maaf akan meluncur.</p>
<p>Di sisi lain menurut salah satu guru saya, memberi maaf adalah salah satu tindakan yang paling mulia yang dapat dilakukan manusia. Di tingkat pertama pemberian yang dapat diberikan adalah pemberian uang atau harta. Banyak orang dapat mendanakan uang atau hartanya dengan mudah. Namun untuk memberikan waktu dan tenaga itu perkara lain. Itu sebabnya pemberian waktu dan tenaga menduduki peringkat kedua dalam hal berdana. Namun sering walaupun kita bisa memberikan waktu dan tenaga, namun kita sulit sekali memberikan maaf yang setulusnya pada sesama kita. Bukan cerita aneh, kalau kita mendengar sepasang sahabat berubah menjadi musuh bebuyutan karena setelah terjadi “korsleting” kedua belah pihak tidak bisa memberi maaf.</p>
<p><span id="more-24"></span>Pernah saya terikat dengan kejadian 1, 2, 3 atau bahkan 10 tahun yang lalu. Kejadian yang membuat saya sakit hati. Kejadian yang membuat saya merasa tidak dihargai. Kejadian yang membuat saya merasa direndahkan. Kejadian yang saya pandang tidak selayaknya dilakukan pada diri saya. Kejadian yang saya anggap telah menorehkan luka dalam yang tak terhapuskan. Kejadian yang apapun alasannya tidak pernah akan saya maafkan. Walau saya tahu, Stephen R.Covey mengajarkan kita bersikap proaktif. Bersikap memilih hal-hal yang bisa kendalikan. Memilih bagaimana mengendalikan diri, dan bukannya memilih memikirkan perilaku orang lain yang membuat sakit hati. Namun, toh ketika peristiwa itu terjadi; kadang saya justru memilih menyimpan luka itu bertahun-tahun.</p>
<p>“Yah sudahlah mas. Wong dia itu ngga bermaksud kurang ajar kok,” komentar teman saya</p>
<p>“Enak aja maaf… maaf… emang dia pikir siapa dia, ngomong sembarangan?” jawab saya dengan mulut manyun.</p>
<p>“Terus… terus… maju’in deh mulutnya biar tambah monyong,” ledek teman saya membuat sewot</p>
<p>Begitulah saya. Walaupun saya begitu mudah mengucapkan maaf. Bahkan kadang saya berperilaku seperti Mpok Minah maknya Sahili di Bajaj Bajuri yang sedikit-sedikit mengucapkan maaf. Namun ketika tiba saatnya memberi maaf yang muncul adalah kata-kata “sulitttt Bo!”</p>
<p>“Sulit pitik kale,” sambar teman saya memlesetkan dari “silit pitik” alias “pantat ayam”</p>
<p>Namun selain penyakit sulit memberi maaf. Ada lagi penyakit yang tak kalah buruk. Kalau dalam hal sepele sering mengucapkan kata maaf. Namun justru ketika tugas yang saya jalankan tidak berjalan dengan sempurna. “When things go wrong” karena kelalaian saya. Jarang sekali saya berani meminta maaf di depan orang banyak. Saya memilih menundukkan kepala dan diam saja. Biar orang berpikir “silent is golden”. Padahal saya tahu, dalam hati saya “silent” kali ini adalah bentuk lain dari “emang gue pikirin”.</p>
<p>Karenanya, saya tersentak ketika kemarin bertemu dengan anak usia 10 tahun. Dia mengomentari temannya yang berbuat salah namun tak mau meminta maaf dengan kata-kata “makanya, kalau mau jadi anak hebat; kalau salah ya minta maaf”. Ceplok!!! Kata-kata anak itu ibarat tamparan di muka saya. Anak kecil aja bisa berpikir demikian, kok saya ndak bisa. Maaf, kesombongan dalam diri ternyata membuat saya pikir mestinya saya bisa lebih hebat dari anak 10 tahun. Padahal… maaf belum tentu.</p>
<p>Email dari: Agus Sutikno</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=24&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/24/maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayo Bobok, Kalo Nggak&#8230;</title>
		<link>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/14/ayo-bobok-kalo-nggak/</link>
		<comments>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/14/ayo-bobok-kalo-nggak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 03:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SyamSyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/14/ayo-bobok-kalo-nggak/</guid>
		<description><![CDATA[Ayo Bobok, kalau nggak bobok nanti dimakan orang gila (kebiasaan menakuti anak dengan orang gila, tikus, pocong, dll) Aduh, menakutkan sekali (ketika saya berumur sekitar 9 tahun, saya pernah mengalami satu kejadian tidak mengenakkan dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan)! Itu juga pasti yang dialami oleh sebagian besar anak kecil lainnya. Memang terlihat efektif, ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=23&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.trevwilliams.co.uk/metips/images/cartoons/sleep.jpg" alt="Tidur" height="142" width="150" />Ayo Bobok, kalau nggak bobok nanti dimakan orang gila<br />
(kebiasaan menakuti anak dengan orang gila, tikus, pocong, dll)</p>
<p>Aduh, menakutkan sekali (ketika saya berumur sekitar 9 tahun, saya pernah mengalami satu kejadian tidak mengenakkan dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan)! Itu juga pasti yang dialami oleh sebagian besar anak kecil lainnya.</p>
<p>Memang terlihat efektif, ketika kita ingin anak kita atau seorang anak kecil melakukan sesuatu yang kita perintahkan. Berikan saja kata-kata seperti judul diatas, dan ketakutan yang ditimbulkannya akan membuat (semoga) anak tersebut menuruti perintah kita.</p>
<p>Toh dengan semakin dewasa, ia akan mengerti bahwa orang gila bukanlah sebuah makhluk yang suka memakan orang lain (mungkin terkecuali ”Sumanto”), atau tikus sebenarnya takut pada manusia, atau kemungkinan seseorang yang pernah (mungkin) melihat pocong (menurut statistik sederhana) adalah 50.000 : 1. Yah, toh anak itu akan mengetahui fakta itu semua kan?</p>
<p><span id="more-23"></span>SALAH!! Ketika kita sebagai orang tua yang (notabene) mengetahui fakta tersebut, menggunakan beberapa hal yang menakutkan untuk memberikan tekanan pada seorang anak untuk menurut, itu merupakan hal yang (menurut saya) cukup mengerikan.</p>
<p>Bukan ancamannya yang mengerikan, tetapi akibat yang ditimbulkannya dikemudian hari. Tahukah bahwa seorang anak itu tak ubahnya seperti spons, yang akan menyerap apapun yang dilihatnya, didengarnya, dan dirasakannya? Seorang akan akan memasukkan informasi yang diterima dari sekelilingnya (terutama dari orang tuanya) ke dalam pikirannya, pikiran bawah sadarnya.</p>
<p>Sekali kata-kata itu masuk, sekali informasi ini masuk, semua itu akan menjadi bagian dari sistem nilai anak tersebut (value), yang besar kemungkinannya menjadi bagian dari kepercayaannya (belief system). Karena telah menjadi nilai, dan akan dijalankan secara refleks, maka apapun hal yang berhubungan mampu mengaktifkan rasa takut di dalam dirinya.</p>
<p>Coba bayangkan dan rasakan, kalau kita berada di posisi anak tersebut. Si anak tidak memiliki data di dalam pikirannya bahwa apa yang menjadi momok/ketakutannya bukanlah sesuatu yang nyata. Bahkan, pikirannya semakinmenjadikan ketakutan tersebut menjadi nyata, dari hari ke hari (sebagai informasi, tahukah anda bahwa pikiran tidak membedakan antara kenyataan dengan imajinasi?</p>
<p>Pernahkan anda membayangkan makanan kesukaan anda di hadapan anda, dan tiba-tiba tanpa disadari, air liur anda mulai bertambah, perut anda bereaksi, dan timbul kebutuhan di pikiran anda?).</p>
<p>Ketakutan ini, yang bila terus diperkuat dari hari ke hari (dengan terus disebutkan pada sang anak), akan menjadi nilai yang semakin kuat. Inilah yang mengakibatkan munculnya berbagai macam phobia pada sang anak, atau bahkan phobia yang masih terbawa sampai sang anak beranjak dewasa (walaupun sebagai orang dewasa, mungkin ia tahu bahwa ketakutannya terasa konyol, tetapi coba kita lihat bersama, seorang perokok pasti tahu bukan bahwa rokoknya membahayakan kesehatan diri dan orang lain, tetapi apa yang dikatakan oleh sebagian besar perokok ketika mereka ingin berhenti merokok? Mudahkah bagi mereka?).</p>
<p>Masih mau menakut-nakuti anak kita?</p>
<p>Kirdi Putra, CHI, CHt</p>
<p>Gambar dari <a href="http://www.trevwilliams.co.uk/metips/images/cartoons/sleep.jpg" title="Sumber Gambar" target="_blank">www.trevwilliams.co.uk</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatibicara.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatibicara.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatibicara.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatibicara.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatibicara.wordpress.com&amp;blog=1178011&amp;post=23&amp;subd=hatibicara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatibicara.wordpress.com/2007/08/14/ayo-bobok-kalo-nggak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c670d1be1391e067cbab161ae693d622?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">SyamSyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.trevwilliams.co.uk/metips/images/cartoons/sleep.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tidur</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
