Oleh: SyamSyah | Oktober 14, 2007

Kisah Karpet

Sebuah kisah nyata…

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | September 27, 2007

1 tamparan untuk 3 pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:

  1. Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
  2. Apakah yang dinamakan takdir
  3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | September 26, 2007

When Is The Right Time ?

“Maybe yes, maybe no.” Istilah ini belakangan menjadi popular karena salah satu iklan rokok. Kalau iklan ini muncul sekitar 4 tahun yang lalu, barangkali ini akan menjadi “senjata” rekan kerja saya untuk memperolok-olok saya. Karena memang ada persamaannya. Sampai saya meninggalkan kantor di usia 39 memang saya masih sendirian alias jomblo. “Kapan kawin? Kapan? Kapan?” sering mereka antara serius dan bercanda menanyakan hal yang satu itu.

“Nunggu apa sih, mas? Rumah ada. Mobil ada. Karir bagus,” kata salah satu rekan kerja saya.

“Mas Agus, sih terlalu ‘choosy’,”celetuk yang lain.

Harus saya akui, mungkin karena salah satu kecenderungan kepribadian saya adalah ‘perfeksionis’, sering saya membutuhkan waktu extra sebelum memutuskan sesuatu. Saya terkadang merasa waktunya belum tepat. Bukan sekali hal tersebut terjadi. Sayangnya, hal ini dalam banyak kesempatan justru sangat merugikan. Misalnya ketika harga saham jatuh, dan tiba saatnya untuk membeli. Muncul pemikiran, ntar deh. Tunggu dulu. Tunggu sampai titik terendah. Tunggu sampai waktunya tepat? Siapa tahu ntar turun lagi. Hingga ketika pasar kembali “bullish”, dan harga saham melonjak; tinggallah saya yang gigit jari.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | September 25, 2007

How to Spell SUCCESS

S see your goals
U understand your obstacles
C clear your mind of doubt
C create possitive mental picture
E embrace your challenge
S stay on track
S show the world that you can do it !

Oleh: SyamSyah | September 25, 2007

Harta Karun Untuk Semua

Oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff – The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakanwaktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | September 19, 2007

Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now

Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.

Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.

Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelas ribuan bahkan jutaan manusia “sukses” di dunia alias manusia bermental juara mempunyai mindset seperti ini.

Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon atau juara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut “sukses”? Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak. Seorang bermental juara alias bermindset “orang sukses” bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.

Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-door dari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kaki setidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap hari tanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimana orang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicara dengan jelas. (Baca http://www.billporter.com, film Door to Door dan buku berjudul Ten Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasan dari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklah termasuk kategori “sukses secara finansial.”

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | September 5, 2007

Kekuatan Tanpa Kekerasan

Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi).

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | Agustus 27, 2007

Dicari Yang Pengalaman

Dicari yang Berpengalaman

Renungan acara morning briefing kali ini berasal dari sebuah ide yang datangnya dari sebuah iklan tentang lowongan pekerjaan di beberapa surat kabar yang sepertinya sudah sering kita baca bersama dimana ada tertulis salah satu bunyi syaratnya adalah Dicari yang Berpengalaman. hati kita tergerak untuk menguraikan bagian tulisn tersebut sesuai dengan thema utama yang akan kita sharingkan dalam acara pagi ini yaitu; Dicari Yang Berpengalaman.

Supaya kita menjadi orang pengalaman. Karena kalau kita renungkan kata berpengalaman itu sesuatu yang amat sangat penting. Kenapa penting! Sebab bila karyawan di dalam perusahan semuanya memiliki pengalaman yang hebat maka perusahaan juga bisa hebat dan kuat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | Agustus 24, 2007

Maaf

Sehari-hari kita sering mendengarkan kata “Maaf”. Biasanya kata maaf diikuti dengan pernyataan tentang kondisi atau keadaan yang di luar harapan. Misalnya “Maaf, kenyamanan Anda terganggu. Maaf, kami sudah tutup. Maaf, saya terlambat. Maaf, barang yang Anda pesan sudah habis. Maaf, kami tidak bisa membantu”. Dan masih banyak maaf-maaf yang lain. Terkesan begitu mudah kita mengatakan kata maaf. Ketika kita mengharapkan orang lain menerima kekurangan yang kita miliki, otomatis kata maaf akan meluncur.

Di sisi lain menurut salah satu guru saya, memberi maaf adalah salah satu tindakan yang paling mulia yang dapat dilakukan manusia. Di tingkat pertama pemberian yang dapat diberikan adalah pemberian uang atau harta. Banyak orang dapat mendanakan uang atau hartanya dengan mudah. Namun untuk memberikan waktu dan tenaga itu perkara lain. Itu sebabnya pemberian waktu dan tenaga menduduki peringkat kedua dalam hal berdana. Namun sering walaupun kita bisa memberikan waktu dan tenaga, namun kita sulit sekali memberikan maaf yang setulusnya pada sesama kita. Bukan cerita aneh, kalau kita mendengar sepasang sahabat berubah menjadi musuh bebuyutan karena setelah terjadi “korsleting” kedua belah pihak tidak bisa memberi maaf.

Baca Lanjutannya…

Oleh: SyamSyah | Agustus 14, 2007

Ayo Bobok, Kalo Nggak…

TidurAyo Bobok, kalau nggak bobok nanti dimakan orang gila
(kebiasaan menakuti anak dengan orang gila, tikus, pocong, dll)

Aduh, menakutkan sekali (ketika saya berumur sekitar 9 tahun, saya pernah mengalami satu kejadian tidak mengenakkan dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan)! Itu juga pasti yang dialami oleh sebagian besar anak kecil lainnya.

Memang terlihat efektif, ketika kita ingin anak kita atau seorang anak kecil melakukan sesuatu yang kita perintahkan. Berikan saja kata-kata seperti judul diatas, dan ketakutan yang ditimbulkannya akan membuat (semoga) anak tersebut menuruti perintah kita.

Toh dengan semakin dewasa, ia akan mengerti bahwa orang gila bukanlah sebuah makhluk yang suka memakan orang lain (mungkin terkecuali ”Sumanto”), atau tikus sebenarnya takut pada manusia, atau kemungkinan seseorang yang pernah (mungkin) melihat pocong (menurut statistik sederhana) adalah 50.000 : 1. Yah, toh anak itu akan mengetahui fakta itu semua kan?

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori